MENGHADIRKAN PEMANTAPAN YANG MANTAP
Oleh: Gede Putra Adnyana
Tidak dapat dipungkiri bahwa UN sampai saat ini masih menjadi momok. Walupun sudah ada regulasi tentang kelulusan, namun tetap saja nuansa ketakutan masih menyelimuti sebagian besar siswa. Ketakutan ini cukup beralasan, karena tidak adannya ujian ulangan, sehingga mengharuskan mereka lulus dalam UN. Dalam konteks inilah maka persiapan dilakukan baik oleh siswa, guru, maupun stakeholders lainnya.
Salah satu persiapan yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah menyelenggarakan pemantapan. Persiapan pemantapan, tidak hanya melibatkan siswa dan guru, tetapi juga orang tua siswa. Begitu bersemangat pihak sekolah mengundang orang tua siswa untuk berdiskusi menyukseskan pelaksanaan pemantapan demi sukses UN. Lalu apakah dengan cara itu pemantapan sudah berjalan dengan baik?
Ternyata harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Fenomena Degradasi Pemantapan mulai menyentuh sebagian besar siswa. Berbagai alasan muncul, seperti jenuh dengan kegiatan pemantapan, payah setelah belajar ½ hari penuh, tidak konsentrasi, pelaksanaan pemantapan yang monoton, dan lain-lain. Apapun alasannya, semua itu menjadi bukti bahwa telah terjadi degradasi motivasi, hancurnya kepercayaan, dan pesimis terhadap penyelenggaraan pemantapan. Berbagai tindakan pun telah dilakukan oleh pihak panitia pemantapan, seperti pemanggilan siswa dan pemanggilan orang tua siswa. Apakah dengan tindakan itu sudah mampu memperbaiki keadaan?
Ternyata tidak. Semua tindakan yang dilakukan ibarat jauh panggang dari api. Tidak langsung mengubah keadaan secara signifikan. Bahkan muncul fenomena kucing-kucingan antara panitia pemantapan dengan siswa. Di mana, siswa yang dapat menghindari dan lolos dari kejaran panitia akan merasa bangga. Sungguh merupakan awal keterpurukan pelaksanaan pemantapan. Lalu, apa yang semestinya dilakukan?
Perkara pemantapan harus dihadapi secara bersama-sama. Tidak akan efektif jika hanya dilakukan oleh panitia saja. Dalam hal ini kerjasama yang baik antara siswa, guru, orang tua siswa, dan masayarakat harus dipupuk. Kesadaran akan pentingnya pemantapan harus dibangun sehingga hadir sebagai motivasi dari dalam diri. Bagaimana cara melakuannya?
Pertama, siswa hendaknya diajak bersama-sama menyusun jadwal pemantapan. Akibatnya, siswa langsung atau tidak langsung akan bertanggung jawab secara moral untuk mengamankan jadwal yang telah disusunnya. Agaknya kurang efektif dan bukan jamannya lagi, semua kegiatan bersifat sepihak. Kondisi yang diciptakan harus melibatkan siswa sebanyak mungkin. Adalah kesia-siaan, jika panitia berpeluh dengan program sementara siswa kering dengan aktivitas. Pendekatan secara hati nurani, dengan mengajak mereka untuk bicara dari hati-ke hati juga merupakan hal yang patut dilakukan. Janganlah memandang siswa itu sebagai objek semata, tetapi pandanglah mereka sebagai subjek yang menentukan keberhasilan program pemantapan. Bahkan, jika ada usulan untuk melaksanakan dan tidak melaksanakan pemantapan pada hari-hari tertentu, wajib hukumnya dipertimbangkan. Inilah bentuk pendekatan hati nurani yang diyakini mampu mengubah pandangan siswa terhadap pemaksaan yang dilakukan panitia untuk mengikuti pemantapan.
Kedua, guru dalam memberikan pemantapan hendaknya menggunakan metode yang bervariasi. Bahkan dengan lokasi yang dapat berpindah-pindah. Jangan ada kesan guru terpaksa memberikan pemantapan, karena program semata. Tetapi, guru harus ikhlas sebagai pelayan siswa untuk membimbing siswa mencapai puncak kesuksesan. Guru adalah faktor penentu keberhasilan siswa, oleh karena itu cara-cara smart dalam pembahasan soal harus diberikan kepada siswa. Guru tidak boleh merasa pintar sendiri, tetapi harus membantu siswa untuk mampu menyelesaikan soal secara sederhana dan cepat. Dalam hal inilah maka kreativitas guru harus hadir sebagai pemicu dan pemacu belajar siswa.
Siswa dan guru saja tidak cukup untuk menyukseskan penyelenggaraan pemantapan. Tetapi, orang tua siswa dan masyarakat juga harus memberikan dukungan penuh. Bagaimana mungkin pemantapan dapat berjalan kalau orang tua siswa tidak memberikan dukungan kepada anaknya untuk mengikuti pemantapan? Bagaimana mungkin pemantapan bisa sukses, kalau masyarakat apriori terhadap penyelenggaraan pemantapan? Orang tua siswa dan masyarakat adalah faktor lingkungan yang sangat besar berpengaruh terhadap penyelenggaranaan pemanatapan. Oleh karena itu, pihak sekolah melalui panitia pemantapan harus bekerja sama secara sungguh-sungguh. Jangan ada dusta di antara kita. Keikhlasan adalah kunci keberhasilan.
Dengan pendekatan hati nurani itu, maka sangat diyakini akan mampu menyelenggarakan pemantapan dengan baik. Marilah kita memulai yang mulia dengan menghilangkan otoritas, dengan mengedapankan kebersamaan, dan dengan menghancurkan birokrasi. Karena pemantapan akan berjalan dengan baik jika siswa, guru, orang tua siswa, dan masyarakat, mendukung dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Siapa yang menabur keiklhasan akan menuai kedamaian. Semoga dengan pemantapan yang efektif dan efisien, kelulusan dapat dicapai seratus persen. Yakin, yakinlah, dan pasti sukses!
Artikel Terkait:
Pendidikan
- 50 Universitas Terbaik di Indonesia
- Seputar UN SMA 2015/2016
- PANDUAN PENDAFTARAN BEASISWA BIDIKMISI TAHUN 2016
- Pemenang Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional 2015
- Kampus Terbaik di Indonesia Tahun 2015
- Guru dan UKG 2015
- Daftar Siswa Smandab Lulus SNMPTN 2015
- Kisi-Kisi UN Kimia 2015
- Ada Apa dengan UN 2015?
- Reaksi Reduksi dan Oksidasi (Bagian-1)
- UN 2015 Tidak Lagi Penentu Kelulusan
- Siapa Bilang Kurikulum 2013 Dicabut?
- Sasaran Dan Penilaian Kerja Pegawai
- Surat Mendikbud tentang Implementasi Kurikulum 2013
- Penerapan K-13 untuk Sekolah Terpilih
- Memuliakan Guru, Mungkinkah?
- SNMPTN, SBMPTN, dan Bidikmisi 2014
- Pengumuman Hasil SNMPTN 2014
- Peraih Nilai Tertinggi UN SMA/MA Tahun 2014 Tingkat Nasional
- 78 Siswa Bali dan 54 Siswa Buleleng Tidak Lulus UN SMA/MA
- Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara
- Bidikmisi Untuk S2 dan Undang-Undang Bidikmisi
- Pemenang Lomba Sekolah Sehat Tahun 2013
- Kisah Inspiratif: Sushma Verma, Raih Gelar Master di Usia 13 Tahun
- Fenomena Guru Berprestasi
Artikel
- Konsep Tri Angga Busana Adat Bali
- Narasi dan Eksekusi Sampah Plastik dalam Pararem
- Bentuk Soal UN 2015 yang Menakutkan
- Ada Apa dengan UN 2015?
- Reaksi Reduksi dan Oksidasi (Bagian-1)
- Mengapa Umat Hindu Melaksanakan Siwa Ratri?
- UN 2015 Tidak Lagi Penentu Kelulusan
- Siapa Bilang Kurikulum 2013 Dicabut?
- Sasaran Dan Penilaian Kerja Pegawai
- Penerapan K-13 untuk Sekolah Terpilih
- Memuliakan Guru, Mungkinkah?
- 7 Alasan Orang Kaya Pelit Sumbangan
- Menuju Hybrid Learning Models Pada Kurikulum 2013
- Hitam Putih Kurikulum 2013 di Tangan Guru
- Ketika Nilai Rapor untuk SNMPTN
- Menggantung Harapan Pada Tim TPG
- Kampus Terpopuler Asia 2013
- Guru Menulis: Momentum dan Tantangan
- Ancaman UN di Kelas XI
- Lenyapnya RSBI-SBI
- 24 Jam Tatap Muka Perminggu Kurang Proporsional
- 5 Unsur Esensial Inquiry
- Hati-Hati Merekrut Pelatih Inti Untuk Kurikulum 2013
- Karut Marut TPG Bukti Ketidakberpihakan Pemerintah
- Penyiapan Guru Sebagai Implementator Kurikulum 2013
Catatan Perjalanan
- Kisah Inspiratif: Sushma Verma, Raih Gelar Master di Usia 13 Tahun
- Happy Ending
- Mati Awal Kehidupan dan Hidup Pangkal Kematian
- Jadilah Orang Gembira
- Gosip Membuat Orang Menjadi Kecil
- Hasil Studi Wujud Perjuangan Hidup
- Perasaan perempuan itu seperti apa sih?
- Agar Tidak Ada Lagi Penyesalan
- Andai Waktu Bisa Terulang
- Lomba Blog dan Twitter DPD RI (Catatan Hari Kedua)
- Hari Pertama Lomba DPD RI 2012
- Gede Putra Adnyana: Profesi Guru Panggilan Nurani
- Putuskan Benang Itu!
- Utak Atik Tahun 2012
- Refleksi Tahun 2011
- Hilang Mu
- Guru Jadi 'Alat Politik'
- Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011
- Molor yang Menyesakkan
- Hati-Hati Dengan Hatimu!
- Peringkat 10 Besar PIMNAS XXIV
- Karya Wisata dan Dharma Yatra
- Hutan Mangrove dan Karya Wisata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Pembaca adalah Kebahagiaan Penulis