KETIKA WAKTU MENGHALAHKAN UANG
Kehidupan dunia modern tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan waktu yang efektif dan efisien. Begitu bermanfaatnya waktu, sehingga tak jarang mengalahkan apapun, termasuk uang. Seakan uang tidak ada artinya ketika harus dikejar dengan batas waktu.
Ketika presentesi harus dilakukan tepat jam 13.00, tetapi pesawat harus diundur untuk terbang sampai jam 12.00, maka rasa resah gelisah pasti menyerang. Ketakutan akan sampai tidak tepat waktu serta gagal melakukan kegiatan yang direncanakan adalah faktor utama resah dan gelisah dimaksud. Tidak jarang, fenomena itu memunculkan keberanian berspekulasi. Mencari penerbangan lain, menarik uang tiket kembali, atau menunggu sampai waktu yang dimundurkan. Semua itu membawa konsekuensi baik dan buruk, untung dan rugi.
Lalu, hikmah apa yang dapat ditarik dari fenomena ini? Ternyata budaya tepat waktu belum membumi di bumi Indoensia. Begitu mudah perubahan terjadi. Bahkan, perubahan itu dilakukan secara mendadak tanpa memberikan solusi yang menyenangkan. Kondisi ini diyakini pasti akan menurunkan produktivitas. Akibatnya, akan menurunkan tingkat kepercayaan publik kepada pelayan publik. Sungguh sebuah kondisi yang membawa efek menggurita. Jika publik sudah tak percaya dengan pelayan publik, dipastikan konflik mudah terjadi yang mengarah kepada sikap destruktif.
Dalam konteks inilah pembelajaran harus terus dilakukan. Semua komponen bangsa, masyarakat, swasta dan pemerintah harus bergerak secara sinergis untuk mewujudkan budaya on time. Agaknya, budaya ini sangat relevan dan signifikan dihadirkan sejak dini. Oleh karena itu, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA, bahkan di semua institusi, wajib menumbuhkembangkan budaya on time. Dengan demikian pendidikan adalah garda terdepan dalam memperbaiki budaya. Pendidikan akan melahirkan budaya, dan budaya akan tercermin dan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Begitu hebatnya peranan pendidikan dalam segala aspek kehidupan, mengapa harus takut memajukan pendidikan? (Penulis: Guru SMAN 2 Busungbiu, Buleleng, Bali)
Artikel Terkait:
Suara Hati
- Mengapa Umat Hindu Melaksanakan Siwa Ratri?
- Sajak Palsu
- Hati-hati dengan Hati!
- Hati-Hati dengan Hati
- Lomba Blog dan Twitter DPD RI (Catatan Hari Kedua)
- Pengumuman: 100 Nama Kandidat Pemenang Lomba DPD RI 2012
- Gede Putra Adnyana: Profesi Guru Panggilan Nurani
- Putuskan Benang Itu!
- Utak Atik Tahun 2012
- Catur Dharma DPD RI
- Refleksi Tahun 2011
- Kearifan Lokal Sebagai Generator Kesejahteraan Rakyat
- Kekerasan: Bagian Kegagalan Otda
- Guru Jadi 'Alat Politik'
- Pasal? Anda Jual, Kami Beli
- Gaji Peneliti Vs Guru Peneliti
- Hati-Hati Dengan Hatimu!
- Perkara Tenaga Honorer Jadi PNS
- Panca Gila
- Ada Apa dengan Bidik Misi
- MENGGUGAT DESENTRALISASI PENDIDIKAN
- Perkara Sistem Rekrutmen Guru
- UN Versus Kejujuran
- Mengkritisi Rekrutmen Guru
Catatan Perjalanan
- Kisah Inspiratif: Sushma Verma, Raih Gelar Master di Usia 13 Tahun
- Happy Ending
- Mati Awal Kehidupan dan Hidup Pangkal Kematian
- Jadilah Orang Gembira
- Gosip Membuat Orang Menjadi Kecil
- Hasil Studi Wujud Perjuangan Hidup
- Perasaan perempuan itu seperti apa sih?
- Agar Tidak Ada Lagi Penyesalan
- Andai Waktu Bisa Terulang
- Lomba Blog dan Twitter DPD RI (Catatan Hari Kedua)
- Hari Pertama Lomba DPD RI 2012
- Gede Putra Adnyana: Profesi Guru Panggilan Nurani
- Putuskan Benang Itu!
- Utak Atik Tahun 2012
- Refleksi Tahun 2011
- Hilang Mu
- Guru Jadi 'Alat Politik'
- Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2011
- Hati-Hati Dengan Hatimu!
- Peringkat 10 Besar PIMNAS XXIV
- Perkara Pemantapan
- Karya Wisata dan Dharma Yatra
- Hutan Mangrove dan Karya Wisata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Pembaca adalah Kebahagiaan Penulis